EXTENSIVE READING
SEBAGAI PENGAKSELERASI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS: KONSEP DASAR DAN
IMPLEMENTASI
Deddy Amrand, S.S,
M. TESOL
Abstact
Artikel ini membahas dua hal pokok. Yang pertama
adalah konsep dan pendekatan Extensive
Reading (ER) sebagai salah satu model alternatif pembelajaran bahasa asing yang diyakini, dan telah dibuktikan di berbagai penelitian,
dapat mengakselerasi proses pembelajaran bahasa. Kajian konseptual tersebut
menunjukkan kompatibilitas pendekatan ER
dengan tendensi
baru dalam dunia pengajaran bahasa
Inggris
dewasa ini, yaitu kecenderungan “pedagogis”, yang merupakan antitesa terhadap kencenderungan “metodologis” selama ini. Kedua,tulisan ini mengetengahkan langkah-langkah perencanaan,
pengimplementasian, dan evaluasi program Extensive Reading, yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan karakteristik program ER yang berhasil di berbagai tempat. Sebagai sebuah pendekatan yang relatif baru, ER memerlukan pemahaman konseptual yang mendalam, perubahan mindset dan yang terpenting persepsi dan perilaku terhadap kegiatan banyak membaca. Meski demikian, ER adalah alternatif yang masih kurang populer. Kombinasi pemahaman konseptual dan teknik-teknik aplikasi program ER di lapangan yang diketengahkan dalam tulisan ini diharapkan menjadi bahan referensi bagi para pengajar bahasa Inggris untuk membantu mereka mempercepat peningkatan kemampuan berbahasa Inggris.
dewasa ini, yaitu kecenderungan “pedagogis”, yang merupakan antitesa terhadap kencenderungan “metodologis” selama ini. Kedua,tulisan ini mengetengahkan langkah-langkah perencanaan,
pengimplementasian, dan evaluasi program Extensive Reading, yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan karakteristik program ER yang berhasil di berbagai tempat. Sebagai sebuah pendekatan yang relatif baru, ER memerlukan pemahaman konseptual yang mendalam, perubahan mindset dan yang terpenting persepsi dan perilaku terhadap kegiatan banyak membaca. Meski demikian, ER adalah alternatif yang masih kurang populer. Kombinasi pemahaman konseptual dan teknik-teknik aplikasi program ER di lapangan yang diketengahkan dalam tulisan ini diharapkan menjadi bahan referensi bagi para pengajar bahasa Inggris untuk membantu mereka mempercepat peningkatan kemampuan berbahasa Inggris.
Pendahuluan
Duniapembelajaran
bahasa Inggris saat ini mengalami kecenderungan
baru, dari kecenderungan “metodologis” ke “pedagogis”.Kecenderungan
‘metodologis”, yang dimulai sejak awal perkembangan dunia ELT (English Language Teaching),ditandai oleh
berbagai upaya inovasi-inovasi metode dan teknik mengajar pengajaran bahasa
Inggris yang efektif, yang kemudian melahirkan berbagai metode dan pendekatan,
sejak dari Grammar-Translation Method,
Audio-Lingual Method, hingga Communicative
Language Teaching dan Cooperative Learning
(lihat Larsen-Freeman, 2000). Memasuki abad ke 21, fokus ini bergeser ke arah
yang lebih luas. Para ahli menyadari bahwa untuk lebih menghasilkan output pembelajaran yang lebih
memuaskan, kita perlu melihat pembelajaran bahasa Inggris dari perspektif yang
lebih luas dan kompleks. Dengan kata lain, kita perlu paradigma yang berbeda.
Paradigma baru,
yang disebut “language pedagogy”
(Brown, 2002) ini, menekankan pentingnya memahaman yang lebih utuh mengenai
bagaimana sesungguhnya proses belajar bahasa kedua. Beberapa prinsip dalam “language pedagogy” adalah: perlunya
menciptakan lingkungan pembelajaran di mana pembelajar dapat sebanyak mungkin
menggunakan bahasa target, lebih membuka kesempatan dan menghargai kontribusi
pembelajar dalam proses pembelajaran, dan penekanan pada aspek kelancaran (fluency) dengan tidak mengorbankan
keakuratan (Richards, 2002).
Extensive Reading
(ER) adalah salah satu pendekatan yang memenuhi prinsip-prinsip tersebut karena
sifatnya yang mendorong kemandirian dan kebebasan pembelajar dalam memilih
bahan bacaan sebanyak mungkin, yang sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing
(Day & Bamford, 1998). Sayangnya, karena berbagai faktor, masih banyak
kalangan pengajar bahasa Inggris yang belum memahami pendekatan Extensive
Reading dan kompatibilitasnya dengan “language
pedagogy” (Renandya & Jacobs, 2002). Padahal, berbagai keunggulan ER
telah diulas secara teoritis, dan diujicoba dalam sejumlah penelitian di
berbagai tempat di dunia ini.Jika dikelola secara tepat sesuai prinsip-prinsip
dasar ER, maka program ini bukan saja dapat meningkatkan minat baca, tetapi
juga dapat mengakselesari peningkatan kemampuan berbahasa Inggris (Akio, 2006;
Bamford & Day, 1997, 1998; Bell, 2010); Gardner, 2004; Horst, 2005; Leung,
2002; Lithuanas et.al., 1999; Nation, 1997; Pigada & Schmitt, 2006;
Renandya et.al, 1999; Schackne, 2006).
Konsep Dasar Extensive Reading
Extensive Reading (ER) secara
sederhana berarti membaca secara ekstensif (luas dan banyak). Orang yang aktif
melakukan ER adalah orang yang gemar membaca, bacaannya mencakup berbagai
jenis, diperoleh dari berbagai sumber, dan dengan jumlah bacaan yang banyak.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris (English
Language Teaching), ER muncul sebagai salah satu pendekatan dalam
pembelajaran bahasa secara umum, dan ketrampilan membaca secara khusus. Adalah
Harold Palmer dan Michael West (masing-masing dari Eropa dan India) yang
dianggap sebagai peletak dasar-dasar teoritis dan praktek pelaksanaan ER
(Bamford & Day, 1997). Palmer-lah yang pertama kali mengusung pendekatan extensive reading, dengan membedakannya
dari intensive reading (IR). Extensive reading adalah membaca secara
luas dan dalam kuantitas banyak, dengan tujuan utama menikmati kegiatan membaca
itu sendiri, sedangkan intensive reading
merupakan kegiatan membaca yang hanya dibatasi pada teks pendek, dan dilakukan
dengan tujuan memahami sedalam mungkin isi bacaan tersebut. Sebagai sebuah
pendekatan dalam pengajaran kemampuan membaca, kedua model ini kemudian
dibedakan secara tajam dalam berbagai aspek yang berkaitan dengan kegiatan
membaca, yang meliputi: tujuan utama membaca, fokus bacaan, sumber dan jenis
bacaan, jumlah bacaan, kecepatan membaca, dan metode membaca. Karakteristik
yang membedakan ER dan IR ini secara jelas digambarkan oleh Day &
Bamford (1998) dalam tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik
pembeda Extensive Reading dan Intensive Reading (diadopsi dari Day &
Bamford , 1998, 123)
Type of Reading
|
Intensive
|
Extensive
|
1.
Class goal
(tujuan umum)
|
Read accurately
(seakurat
mungkin)
|
Read fluently
(selancar
mungkin)
|
2.
Reading purpose
(tujuan)
|
-Translate
(menerjemahkan)
-Answer questions
(menjawab
pertanyaan)
|
-Get information
(memperoleh
informasi)
-Enjoy
(menikmati)
|
3.
Focus
(perhatian)
|
Words by words
(kata demi
kata)
|
Meaning
(makna
secara umum)
|
4.
Material
(bahan bacaan)
|
-Often difficult
(lebih
sering sulit)
-Teacher choose
(ditentukan
oleh guru)
|
-Easy
(mudah)
-Student chooses
(dipilih
oleh masing-masing siswa)
|
5.
Amount
(kuantitas)
|
Not much
(sedikit)
|
A lot
(banyak)
|
6.
Speed
(kecepatan)
|
Slower
(agak
lambat)
|
Faster
(di atas
kecepatan normal)
|
7.
Method
(cara)
|
-Must finish
(harus
diselesaikan)
-Use dictionary
(gunakan
kamus sesering mungkin)
|
-Stop if you don’t like it
-Minimum use of dictionary
(kamus
hanya sesekali digunakan)
|
Dari tabel 1 di atas, jelas tampak bahwa Extensive Reading merupakan pendekatan yang sangat berbeda secara
diametral dengan Intensive Reading,
sebagai pendekatan konvensional (yang umumnya digunakan selama ini) dalam
pembelajaran kemampuan membaca. ER merupakan pendekatan alternatif yang
menawarkan cara baru dalam mengajarkan kemampaun membaca teks-teks berbahasa
Inggris. Cara-cara baru ini dianggap dapat melengkapi, bukan menggantikan,
pendekatan Intensive Reading, yang
terbukti selama ini kurang efektif dalam membentuk pembelajar yang mau dan
mampu membaca dalam jumlah banyak.
Dengan pendekatan IR yang selama ini digunakan dalam mengajar reading
skills, kondisi pembelajaran bahasa Inggris belum begitu memuaskan. Para
pembelajar hanya mau membaca ketika ditugaskan oleh guru mereka. Di luar kelas,
sangat jarang, atau bahkan tidak pernah, mereka membaca. Menurut Day &
Bamford (1998), kondisi buram kelas-kelas reading dapat dirangkum dalam tiga
keadaan. Pertama, “Students have no
willingness to read, or if they read they do it slowly and without enthusiasm”.(
Para pembelajar hampir tidak mempunyai keinginan membaca, kalau pun mereka
membaca, hal itu dilakukan dengan sangat perlahan dan kurang antusias). Kedua,“Students
come to the class with uneasy feeling, and they quickly become bored to the
reading lessons”. (para pembelajar menghadiri pelajaran reading dengan
suasana hati yang tidak nyaman, mereka gelisah, dan sangat cepat bosan dengan
kelas-kelas reading). Ketiga, Students
only read English written materials if they are asked by their teacher; apart
from that, they rarely read English texts. (para pembelajar hanya membaca
teks-teks berbahasa Inggris kalau diinstruksikan oleh guru mereka, di luar itu
mereka hampir tidak pernah membaca).
Selanjutnya, Day & Bamford (1998) menyimpulkan bahwa potret buram realitas
pengajaran reading yang menggunakan pendekatan konvensional (Intensive reading)
ini mengindikasikan 3 hal: (1) Students
who are learning to read in English do not read (pada umumnya, mereka yang
belajar membaca justru tidak membaca); (2) Students
do not like reading (para umumnya, siswa tidak gemar membaca); dan (3) Students rarely read (siswa sangat
jarang membaca). Jadi, adalah hal yang sangat ironis, ketika pengajaran
kemampuan membaca justru tidak dilakukan dengan banyak membaca. Para guru
menginginkan siswanya mahir membaca dalam bahasa Inggris, tetapi dalam
kenyataannya metode pengajaran yang mereka terapkan tidak membuat siswanya
membaca sesering mungkin. Padahal, ketrampilan hanya dapat diasah dengan
sesering mungkin melatih dan melatih skill tersebut. Berikutnya, pendekatan IR
ternyata tidak mampu menanamkan kecintaan membaca dalam diri para siswa, dan
akibatnya mereka pun malas membaca. Dengan kata lain, kekurangan yang terdapat
pada pendekatan IR adalah karena metode yang dilakukan (hanya membaca sedikit
dan miskin daya tarik) tidak sepenuhnya mendukung tujuan yang diharapkan (mahir
membaca).
Atas dasar keprihatinan terhadap kondisi di atas, para pendidik di bidang
pengajaran bahasa Inggris kemudian mengadvokasikan pentingnya pendekatan Extensive Reading, sebagai sebuah
alternatif dan pelengkap pendekatan konvensional selama ini. ER diyakini dapat
menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam pendekatan IR. Untuk menguji
efektifitas extensive reading, berbagai penelitian pun dilakukan.
Penelitian di bidang ER
Dalam perkembangannya, ER kemudian menempati posisi penting dalam dunia
pembelajaran bahasa Inggris. Ini karena berbagai efek positif yang ditimbulkan
pendekatan ini dalam meningkatkan kemampuan membaca secara khusus, dan
kemampuan berbahasa Inggris secara umum.
Day & Bamford (1998) meriviu sejumlah penelitian dalam bidang ER
yang dilakukan pada 1980-an dan 1990-an. Hasilnya sangat luar biasa, hampir
semua penelitian pada era tersebut melaporkan pengaruh ER yang sangat
signifikan terhadap kemampuan berbahasa Inggris secara umum, dan khususnya pada
peningkatan kemampuan reading, writing,
speaking, dan vocabulary. Di
samping itu, ER juga berpengaruh positif terhadap ranah afeksi para pembelajar.
Sikap dan motivasi terhadap kegiatan membaca dilaporkan meningkat, dan pada
tahap selanjutnya ER ternyata sangat membantu proses pemerolehan bahasa kedua (second language acquistion).
Mengutip Krashen (1982), Renandya (1991: 1) menyebutkan bahwa salah satu
keunggulan ER adalah karena ia menjadi medium yang sangat efektif untuk
memberikan input, dalam bentuk bacaan, yang semaksimal mungkin pada para
pembelajar. Dalam theori Input Hypothesis (Krashen, 1982), input merupakan
salah satu komponen penting dalam yang mempengaruhi kesuksesan pemerolehan
bahasa kedua. Input dapat diperoleh lewat dua jalur: pendengaran (menyimak = listening) dan penglihatan (membaca = reading). Untuk melahirkan output yang baik (berupa speaking dan writing), input yang
diterima pembelajar harus banyak, dan ini sangat dimungkinkan oleh Extensive
Reading karena dengan pendekatan ini para pembelajar didorong untuk membaca
sebanyak-banyaknya.Selain yang telah direviu oleh Day & Bamford di atas,
ulasan luas tentang hasil-hasil penelitian di bidang ER juga dilakukan oleh
Jacobs et.al. (1997) yang mereviu berbagai program ER yang telah dilaksanakan
di berbagai tempat di dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara.
Sejumlah penelitian di tahun 2000-an juga menunjukkan hasil yang konsisten.
Bell (2001) misalnya, melaporkan bahwa ER meningkatkan kecepatan membaca, namun
tetap disertai dengan pemahaman yang baik. Garder (2003) dan Pigada &
Schmitt (2006) mengidentifikasi adanya pengaruh positif ER terhadap pengayaan
kosa kata pembelajar. Hsui (2006) menunjukkan fungsi strategis ER program yang
dilakukannya, yang dinamakan GIR (Guided
Independent Reading), dalam membentuk pembaca yang independen.
Keunggulan program ER bukan hanya karena efek positifnya pada kemampuan
bahasa pembelajar, tetapi juga karena pendekatan ini sangat fleksibel untuk
dapat diterapkan tanpa terikat dimensi usia pembelajar dan jangka waktu
pelaksanaannya. Renandya et.al.
(1999) secara khusus mengamati penerapan ER pada pembelajar dewasa. Hasilnya,
program ini berpengaruh positif pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Berkaitan dengan faktor waktu, Shancke (2006) mengulas dua buah studi yang
dilakukannya untuk meneliti pengaruh ER terhadap pemerolehan bahasa. Kedua
penelitian itu, yang dilakukan pada tahun 1986 dan 1995, menunjukkan hasil yang
sama: terjadi peningkatan pemerolehan bahasa Inggris melalui program ER yang
dilaksanakan dalam jangka pendek (4 bulan). Ini menunjukkan bahwa program ER
dapat diterapkan pada pembelajar dini, remaja, maupun dewasa, dan ia dapat
diselenggarakan dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang
Hal menarik yang patut digarisbawahi dari penelitian-penelitian di atas
adalah bawah progarm ER, selain mendukung peningkatan kemampuan berbahasa
Inggris, umumnya juga mendapatkan respon dan tanggapan yang positif dari subyek
penelitian (dalam hal ini para pembelajar). Day & Bamford (1998: 38) secara
khusus mencatat hal ini dan menekankan bahwa “[a]nd equally exciting, students who learn to read through an
extensive reading program approach develop positive attitudes and become
motivated to read in the second language. Dengan kata lain, sebagai sebuah
pendekatan, ER ternyata sangat kompatibel dengan faktor afektif pembelajar.
Bahkan dapat dikatakan, keberhasilan program-program ER sebagian besar
ditunjang oleh karakteristiknya yang memberi kesan positif bagi para
pembelajar. ER mengandung unsur fun
dan enjoy (kesenangan dan
kenikmatan), dua unsur yang secara psikologis sangat berperan penting
menyukseskan pembelajaran apapun.
Dimensi afektif (sikap dan motivasi) inilah yang tidak sepenuhnya
terakomodasi dalam pendekatan pengajaran reading konvensional (intensive reading). Padahal, sulit
mengharapkan kesusksesan dalam melakukan sesuatu tanpa disertai sikap positif
dan motivasi yang tinggi. Pembelajaran yang tidak mempertimbangkan dimensi afektif
pembelajar juga dapat berujung pada kegagalan, karena ketiadaan unsur afeksi
berarti mengurangi keterlibatan unsur emosional dalam diri pembelajar terhadap
apa yang tengah dipelajarinya. Dan kalau hal ini terjadi berlarut-larut, maka
pembelajaran dapat gagal. Kondisi seperti ini juga dapat terjadi pada
pembelajaran reading. Sulit mengharapkan terjadinya aktifitas membaca yang
benar-benar intens, mendalam, dan bermanfaat, jika seorang pembaca tidak
mengalami keterlibatan afektif dan emosional terhadap kegiatan membaca itu
sendiri. Yang terjadi, kegiatan membaca akan dipandang sebagai sesuatu yang
membosankan, atau bahkan sangat tidak menyenangkan. Ironisnya, kondisi inilah
yang banyak melanda para pembelajar bahasa Inggris, terutama di tingkat dasar
dan menengah. Salah satu penyebabnya adalah pendekatan konvensional (intensive reading) yang selama ini
diterapkan di sekolah-sekolah.
Day & Bamford (1997) mengkritisi pendekatan ini, yang dianggap tidak
sensitif dengan dimensi afeksi pembelajar, lewat pernyataan beikut: teachers are (rightly) concerned with
developing in their students the ability to read, but how much attention do
teachers pay to developing a habit –indeed, love –of reading in their students?
(Day & Bamford ,1997: 2). Menurut mereka, mengajarkan keterampilan scanning dan skimming adalah hal yang syah. Namun sebelum ke situ, seharusnya
para guru menanamkan dulu kecintaan para pembelajar terhadap kegiatan membaca.
Mengutip Eskey (1995), mereka mengibaratkan pelajaran membaca dengan pelajaran renang: “the teaching of swimming strokes to people who hate the water (Day
& Bamford, ibid.) Artinya,
sebagaimana musykilnya mengajarkan ketrampilan berenang pada orang yang enggan
menyentuh air, maka mengajarkan keterampilan membaca pada orang yang tidak suka
membaca adalah hal yang sukar diterima akal sehat. Dengan kata lain,
pembelajaran reading selayaknya dimulai dengan pendekatan extensive reading, yang tujuan utamanya menanamkan cinta baca.
Setelah itu, barulah digunakan pendekatan intensive
reading, yang berfokus pada keterampilan membaca (reading skills).
Sebuah penelitian yang dilakukan Bell (2001) mencoba membandingkan
pendekatan ER dan IR. Bell melakukan eksperimen terhadap 2 kelas, di mana dalam
kelas intensive reading para
pembelajar memperoleh bacaan-bacaan singkat diikuti tes pemahaman bacaan. Pada
kelas yang menerapkan pendekatan ER, para pembelajar membaca novel/cerita
pendek yang telah disederhanakan bahasanya (simplified
graded readers). Hasilnya, kelas extensive
reading mengalami peningkatan lebih baik daripada kelas intensive reading,
baik dalam hal kecepatan membaca maupun tingkat pemahaman isi bacaan.
Untuk dapat mengimplementasikan program Extensive Reading, kita perlu memahami konsep
dasar ER dan peranannya
sebagai salah satu model “language
pedagogy.” Salah satu isu penting dalam hal ini adalah bagaimana mengimplementasikan prinsip “rich learning environment” melalui ER. Prinsip
pertama dalam “language pedagogy” ini
menekankan penting menciptakan lingkungan pembelajaran bahasa Inggris dimana
pengajar dan pembelajar menggunakan bahasa Inggris sebanyak mungkin. Kebanyakan kita umumnya mengasumsikan “penggunaan bahasa Inggris”dalam
arti aktif, yaitu secara oral melalui ketrampilan produktif (speakingdan writing), dan hal ini dirasa kurang
sejalan dengan kegiatan utama ER, yakni membaca. Sesungguhnya kita perlu melihat ketrampilan berbahasa Inggris secara
terintegrasi, setiap ketrampilan adalah saling terkait dan mendukung. Speaking dan writing adalah output, yang untuk mampu melakukannya diperlukan
input yang memadai melalui reading
dan listening. Jadi, ER adalah media
input, yang dalam istilah Krashen disebut dengan comprehensible input, komponen yang sangat penting dalam
pembelajaran bahasa.
Hal lain yang diperlukan adalah pemaknaan “rich
learning environment” secara aktif maupun pasif. Jika ketrampilan produktif
(speaking dan writing) bersifat aktif, maka ketrampilan reseptif (reading dan listening) bersifat pasif. Keunggulan model ER adalah melalui ER
terbuka kesempatan bagi para pembelajar untuk mengaplikasikan keempat
ketrampilan berbahasa tersebut. Setelah membaca (secara ekstensif), pembelajar
dapat melatih speaking dan listening skill mereka melalui kegiatan book talk in groups dan book presentation. Melalui kegiatan book report dan book response, mereka melatih writing
skills.
Hal berikutnya yang perlu dikaji adalah karakteristik program ER yang berhasil. Menurut para pakar, untuk bisa efektif, program ER
perlu memenuhi 11 kriteria (lihat Richard & Bamford, 1998).
Model Pelaksanaan Program
Extensive Reading
Model-model pelaksanaan program Extensive Reading yang berhasil umumnya mengadopsi
karakteristik-karakteristik dasar ER sebagai sebuah pendekatan dalam pengajaran
bahasa Inggris. Menurut Day & Bamford (1998:7-8), untuk melaksanakan sebuah
program ER yang sukses, kesepuluh karakteristik berikut harus muncul
1.
Students read as
much as possible (para pembelajar membaca sebanyak mungkin)
2.
A variety of
reading materials on a wide range of topics is available (tersedianya bahan
bacaan dalam berbagai topik, jenis, dan tingkat kesulitan yang bervariasi)
3.
Students select
what they want to read (para siswa sendirilah yang harus memilih bacaan apa
yang mereka sukai)
4.
The purposes of
reading is usually related to pleasure, information, dan general understanding (tujuan utama
membaca adalah untuk kesenangan, mendapatkan informasi, dan pemahaman secara
umum).
5.
Reading is its own
reward.
(imbalan yang diperoleh dari membaca adalah kesenangan dan kepuasan membaca itu
sendiri)
6.
Reading materials
are well within the linguistic competence of the students (tingkat kesulitan
bahan bacaan haruslah sesuai dengan level para pembelajar)
7.
Reading is
individual and silent (membaca dilakukan secara orang per orang dan tidak
nyaring)
8.
Reading speed is
usually faster than slower (membaca lebih dilakukan secara cepat, membaca lambat
harus dihindari)
9.
Teachers orient
students to the goals of the program, explain the methodology, keep track of
what each student reads, and guide students in getting the most out of the
program (guru berperan menjelaskan orientasi/tujuan utama program, metodologi yang
akan dilakukan, merekam kegiatan membaca setiap siswa, dan membantu setiap
siswa agar memperoleh manfaat yang sebesar-besar dari program ER).
10.
The teacher is an
active role model of reader for students. (guru harus memberi contoh
yang baik sebagai pembaca yang aktif dan ekstensif)
Kesepuluh karateristik inilah yang menjadi pedoman dalam
pendisainan program-program ER. Kriteria-kriteria
tersebut disimpulkan dari berbagai hasil penelitian terhadap pelaksanaan
program ER yang telah dilakukan selama 10 tahun terakhir di berbagai tempat dan
konteks pembelajaran di dunia. Di sini kita perlu mereviu
kembali kriteria-kriteria dan karakteristik tersebut,lalu menganalisis satu demi satu kriteria, sebelum kemudian melihat peluang dan tantangannya dalam konteks
lingkungan pembelajaran bahasa Inggris di tempat kita masing-masing.
Biasanya, ada dua
karakteristik ER yang berpotensi menjadi kendala utama, yaitu (1) ketersediaan
materi/bahan bacaan yang banyak dan bervariasi; dan (2) peran guru/pengajar
sebagai model yang dapat diikuti pembelajar. Faktor ketersediaan materi
dianggap menjadi tantangan mengingat kondisi berbagai perpustakaan yang sangat
minim dengan bacaan berbahasa Inggris yang dapat mendukung pelaksanaan ER.
Faktor kedua, peranan guru/pengajar, menjadi tantangan terbesar karena masih rendahnya
budaya baca kita. Kebiasaan banyak membaca harus diakui belum merupakan bagian
dari kehidupan masyarakat kita, tidak terkecuali para guru/pengajar.
Model-model pengintegrasian ER dalam kurikulum
Pemahaman terhadap topik
ini penting untuk menajamkan pemahaman kita terhadap aspek
aplikatif ER. Setelah memahami konsep dan karakteristik program ER, kita dapat mulai menjajaki prospek penerapan model ER di
sekolah-sekolah.
Secara teoritis, ada empat cara yang dapat ditempuh untuk
menintegrasikan program ER dalam kurikulum kita:
(1) ER sebagai
satu mata pelajaran;
(2) ER sebagai
bagian dari mata pelajaran bahasa Inggris;
(3) ER sebagai
kegiatan ektra kurikuler;
(4) ER sebagai
mata pelajaran non-kredit.
Kondisi kita umumnya menunjukkan
alternatif 1 masih belum mungkin dilakukan mengingat kurikulum pendidikan
menengah telah baku, dan pembentukan mata pelajaran baru harus melalui
keputusan pengambil kebijakan di pusat. Alternatif 2 dianggap paling
memungkinkan di sekolah-sekolah. Ini pun bukan tanpa masalah. Volume materi
pelajaran bahasa Inggris yang harus dituntaskan dirasa telah cukup besar.
Memasukkan komponen ER berarti mengambil alokasi waktu belajar yang sebenarnya masih
kurang. Sementara itu, alternatif 3 dan 4membuka peluang yang lebih luas bagi
pelaksanaan ER secara penuh. Meskipun demikian, karena sifatnya yang sukarela,
tantangannya akan terletak pada bagaimana membangun kesadaran peserta didik
untuk terlibat aktif dalam program ER.
Meskipun demikian, keempat
alternatif di atas tetap perlu dipertimbangkan secara merata, tanpa
mengutamakan yang satu di atas yang lain. Alternatif-alternatif
tersebut harus dilihat dalam skala prioritas tergantung kondisi setiap
lingkungan pembelajaran. Pada tahap awal, alternatif ke-2 yang paling
memungkinkan dilakukan, meskipun harus diupayakan agar tidak mengganggu muatan
kurikulum bahasa Inggris yang telah ada. Di sini sangat dibutuhkan kemampuan
guru menyiasatinya. Beberapa strategi yang dapat ditempuh adalah:
(a) mengalokasikan
15-20 menit di akhir pelajaran bahasa Inggris untuk kegiatan ER;
(b) menjadikan ER
sebagai pekerjaan rumah rutin (perminggu atau perdua minggu), atau;
(c) mengintegrasikan
ER pada materi-materi reading, speaking, listening,
atauwriting.
Selanjutnya,
pada tahap-tahap berikutnya – ketika pembelajar telah memahami konsep, tujuan,
dan metode pelaksanaan ER yang efektif – guru dapat menerapkan alternatif 3 (ER sebagai
kegiatan ekstrakurikuler) atau 4 (ER sebagai mata
pelajaran non-kredit). Diharapkan
pada tahap lanjutan ini, sebanyak mungkin peserta didik telah memiliki kesadaran
akan manfaat ER bagi peningkatan bahasa Inggris mereka, dan kemandirian dalam
melaksanakannya secara kontinyu.
Berdasar pada
pemahaman tentang landasan pedagogik, karakteristik, dan model alternatif
pelaksanaan ER, kita dapat mulai membuat
perencanaan pelaksanaan program ER. Rancangan tersebut meliputi: strategi
penyediaan bahan bacaan, orientasi program, jenis-jenis kegiatan (inti maupun
penguatan), format lembaran-lembaran pencatat kegiatan ER (weekly reading diary, book report, book response), format evaluasi
program, dan sebagainya.Di sini dibutuhkan kreatifitas
kita
dalam mendisain format weekly readingdiary, book report, dan book response. Dengan mengadopsi model-model format yang pernah
dipakai pada sejumlah tempat, kita dapat mendisain
model-model yang lebih sesuai dengan konteks pembelajaran lokal. Misalnya, membuat
format lembaran yang lebih menarik dengan grafik, gambar, tulisan, dan lay-out unik. Kita bahkan dapat mendisain format
lembaran yang menyediakan kesempatan bagi pembelajar untuk “menghiasi” sendiri
sesuai kreatifitas masing-masing. Diharapkan dengan cara ini para pembelajar
nanti tidak mudah bosan dalam mengisi dan melengkapi lembaran-lembaran yang
mencatat kegiatan membaca mereka.
Material untuk Extensive Reading
Pada tahap ini kita perlu menemukan strategi pengoleksian dan pengelolaan bahan bacaan (class library), yang merupaan salah satu
karakterisitik penting sebuah program ER. Bercermin pada program-program ER
yang telah berhasil dilaksanakan di berbagai tempat, sejumlah ahli menyarankan bermacam
cara mengelola class library, mulai
dari tahap pengumpulan, peng-kompilasi-an, hingga tahap peminjaman bahan-bahan
bacaan. Para peserta mendiskusikan tahap-tahap tersebut, menganalisis peluang
dan tantangan pelaksanaannya di lapangan, lalu mencari aternatif terbaik yang
dapat ditempuh dalam mengelola class
library sesuai dengan kondisi objektif di sekolah-sekolah. Setelah
mempelajari saran-saran para ahli, kita harusnya menyadari
bahwa pengelolaan class librarybukanlah
masalah pokok yang perlu dikhawatirkan. Kondisi miskinnya
perpustakaan dengan koleksi bacaan berbahasa Inggris dapat disiasati dengan
berbagai cara, antara lain: mengumpulkan koleksi pribadi setiap peserta untuk
disimpan dalam koleksi class library
secara temporer, meng-copy buku pengajar/guru, membeli, dan mengunduh dari internet.
Secara khusus,
kita
dapat memfokuskan diri pada
teknik dan strategi mendapatkan bahan-bahan bacaan dari internet dengan menelusuri situs-situs penyedia bahan bacaan
berbahasa Inggris, baik fiksi maupun non-fiksi, yang dapat diunduh secara
gratis. Setelah memperoleh bahan yang dianggap sesuai, kita dapat mereproduksi bahan-bahan tersebut hingga menjadi
buku yang dapat diakses, dibaca, dan/atau dibawa pulang. Proses reproduksi ini
meliputi:
1)
Konversi dokumen
dari format PDF ke format DOC, dengan menggunakan perangkat lunak pengkonversi
dokumen (a.l. PDF Converter Elite 2009);
2)
Penyuntingan
dokumen. Setelah berbentuk DOC, dokumen lalu diedit sedemikian rupa agar hasil
cetakannya nanti menyerupai buku berukuran setengah folio. Bagian yang diedit
meliputi ukuran huruf, jarak margin, jarak spasi, dan ukuran kertas;
3)
Pencetakan.
Selain isinya, kulit luar buku pun ikut dicetak agar menghasilkan buku yang
semirip mungkin dengan aslinya.
4)
Penjilidan
dokumen.
Dengan cara mengunduh
dan mereproduksi ini, penyediaan bahan bacaan ER, yang
selama ini menjadi momok penghalang kegiatan ER, tidak perlu menjadi masalah lagi. Dengan memanfaatkan kemajuan
teknologi infornasi, kita dapat memperoleh berbagai bahan bacaan, dalam
berbagai topik, tingkat kesulitan, jenis, dan jumlah yang nyaris tak terbatas.
Kita hanya perlu sedikit bersusah payah menyunting, merapikan, dan mencetak
bahan-bahan tersebut. Selanjutnya, buku-buku yang telah direproduksi dapat
menjadi koleksi perpustakaan kelas
untuk selamanya.
Implementasi ER
Kegiatan inti ER
adalah membaca dalam jumlah banyak secara kontinyu, yang diistilahkan dengan uninterrupted sustained silent reading
(USSR), drop everything and read
(DEAR), atau silent free voluntary
reading for pleasure. Sedangkan kegiatan pendukungnya mencakup oral report in groups, book
presentation/talk, book report, dan book response.
Beberapa output
dari kegiatan ER ini adalah:
a)
Lembaran-lembaran
book report/response, yang diisi oleh
setiap pembelajar setelah selesai membaca satu buku. Lembaran ini
berfungsi merekam identitas buku yang Lembaran-lembaran book report/response (lihat lampiran 3), yang diisi oleh setiap
peserta setelah selesai membaca satu buku. Lembaran ini berfungsi merekam
identitas buku yang dibaca, alasan memilih buku, pendapat pembaca tentang
seberapa menarik dan sulit/mudah buku yang dibaca.
b)
Catatan bacaan mingguan
(weekly reading diary). Fungsi
sebenarnya dari lembaran ini adalah untuk merekam aktifitas membaca mingguan,
yang mencakup judul buku & pengarang, serta total halaman yang dibaca dalam
seminggu.
c)
Catatan hasil book presentation, yang mencatat nama
buku dan pengarang, jumlah halaman, sinopsis singkat isi buku, kesan-kesan
terhadap isi buku, dan direkomendasi-tidaknya buku tersebut untuk dibaca orang
lain.
Evaluasi Program ER
Bagian akhir dari seluruh rangkaian pelaksanaan program
ER adalah tahap evaluasi program.Untuk dapat melaksanakannya dengan baik, kita
perlu memahami tujuan, jenis, dan
cara-cara melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan sebuah program ER.Mengacu
pada saran para pakar ER (Richards & Bamford, 1998), hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam merancang evaluasi program adalah:
(1)
menentukan tujuan
evaluasi (mengukur pencapaian tujuan, mengetahui ada tidaknya aspek lain
(selain tujuan utama program) yang ikut terpengaruh, atau mengidentifikasi
aspek-aspek yang perlu ditingkatkan/dibenahi);
(2)
menentukan sumber
evaluasi (pengajar, pembelajar, manajemen sekolah);
(3)
menentukan metode
evaluasi yang tepat dan efektif.
Kita dapat melihat
contoh-contoh instrumen evaluasi yang pernah dilakukan di berbagai tempat, lalu mendesain
instrumen evaluasi program ER yang sesuai dengan kondisi kita masing-masing.
Sesungguhnya, inilah salah satu
kekuatan penting dari program ER – dengan adanya evaluasi maka perbaikan dan
peningkatan menjadi hal yang mungkin terwujud. Selama ini, kalau kita mau
jujur, begitu banyak kegiatan atau
program yang tidak mengindahkan pentingnya evaluasi. Seringkali kita mengadakan
kegiatan ini itu, workshop, pelatihan, atau bahkan pengajaran di kelas, namun
setelah semua berakhir tidak ada upaya mengevaluasinya. Kalau pun ada, itu
hanya terjadi di dalam kelas, dan hanya pihak pembelajarlah yang dievaluasi
(dalam bentuk tes formatif atau sumatif). Hampir tidak pernah dilakukan
evaluasi terhadap pelaksana (panitia atau pengajar) dan program itu sendiri
secara keseluruhan. Akibatnya, kita sering mengadakan kegiatan yang sama atau
serupa lagi, dan kembali melakukan kesalahan yang sama.Dalam ER, evaluasi tidak
hanya difokuskan pada pembelajar, tetapi juga pada pengajar dan pihak manajemen
sekolah. Dengan begitu, semua pihak yang terkait dapat mengetahui perkembangan
dan permasalahan yang terjadi selama program berlangsung, dan diharapkan dapat
mengambil respon yang sesuai.
Kesimpulan dan Penutup
Secara umum, dapat kita
simpulkan bahwa dibutuhkan perubahan pola
pikir para pengajar terhadap konsep dan
pelaksanaan ER sebagai salah satu model pembelajaran bahasa Inggris. Selama ini
persepsi yang berkembang adalah bahwa ER hanya diaplikasikan dalam pengajaran
reading. Sesungguhnya, ER pun dapat diintegrasikan dengan skill lain (speaking,
listening, dan writing) dan
pengetahuan bahasa lainnya (grammar
dan vocabulary). Dengan demikian, program ER
seharusnya menjadi alternatif penting dalam mengakselerasi pemerolehan bahasa,
di samping tentu saja menambah wawasan melalui banyak membaca. Kalau ini dapat
kita implementasikan dengan baik, maka kita bisa berharap peningkatan output
pembelajaran bahasa Inggris yang lebih baik.
SUMBER RUJUKAN
Bamford J., dan Richard R. Day.1998. .Extensive Reading in the Second Language
Classroom. Cambridge: Cambridge University Press.
Bamford, Jdan Richard R. Day (ed.). 2004. Extensive
Reading Activities for Teaching Language. Cambridge: Cambridge University Press.
Bamford, J, dan Robert R. Day. 1997. Extensive Reading: What is it? Why bother? Tersedia pada http://jalt-publications.org/old_tlt/files/97/may/extensive.html. Diakses pada 8 Juli 2012.
Bell, T. 2001. Extensive Reading: Speed and
Comprehension. The Reading Matrix, 1
(1).
Day, R.R, & J. Bamford. 1998. Extensive Reading in the Second Language Classroom. Cambridge: CUP.
Garder, D. 2004. Vocabulary
Input through Extensive Reading: A Comparison of Words found in Children’s
Narrative and Expository Reading Materials. Applied Linguistics, 25
(1):1-37.
Hsui, V.Y. 2006. Guided
Independent Reading (GIR): A Programme to Nurture Lifelong Readers.
Tersedia pada http://extensivereading.net/docs/hsui.html. Diakses pada 5 Juli 2012.
Lituanas, P. M. Jacobs, G.M, & Renandya, W.A. 1999. A
study of extensive reading with remedial reading students. In Y.M. Cheah &
S.M. Ng (eds). Language instructional
issues in Asian classrooms (pp.89-104). Nemark, DE: International Development
in Asia Committee, International Reading Association.
Nation, P. 1997. The language Learning Benefits of
Extensive Reading. The Language Teacher,
21, 5, 13-16.
Pigada, M., & N. Scmitt. 2006. Vocabulary Acquisition
from Extensive Reading: A Case Study. Reading
in a Foreign Language, 18(1).
Renandya, W.A., Rajan, B.R.S., & Jacobs, G.M. 1999.
Extensive reading with adult learners of English as a second language. RELC Journal, 30, 39-61.
Richards, Jack C., dan Willy A. Renandya (ed.). 2002.Methodology in
Language Teaching,
Cambridge: Cambridge
University Press.
Schackne, S. 2006. Extensive Reading and Language
Acquisition – Two Studies. Tersedia pada http://www.schackne.com/Twostudies.htm. Diakses pada tanggal 5 Juli 2012.
.
3 comments:
Thank you for giving information about Extensive Reading
Kak boleh tanya untuk pengaplikasian extensive reading kepada siswa, kompetensi dasar berapakah yang pas?
MGM Resorts Completes $250 Million Resorts' $250 Million
The $250 million Wynn Las Vegas and Encore will 구리 출장샵 feature 2,748 rooms, 포천 출장마사지 according to a 제천 출장안마 release from the casino 상주 출장샵 giant. 남양주 출장샵
Post a Comment