EXTENSIVE READING BY DEDDY AMRAND,S.S, M.TESOL



EXTENSIVE READING
SEBAGAI PENGAKSELERASI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS: KONSEP DASAR DAN IMPLEMENTASI


Deddy Amrand, S.S, M. TESOL

Abstact
Artikel ini membahas dua hal pokok. Yang pertama adalah konsep dan pendekatan Extensive Reading (ER) sebagai salah satu model alternatif pembelajaran bahasa asing yang diyakini, dan telah dibuktikan di berbagai penelitian, dapat mengakselerasi proses pembelajaran bahasa. Kajian konseptual tersebut menunjukkan kompatibilitas pendekatan ER dengan tendensi baru dalam dunia pengajaran bahasa Inggris

dewasa ini, yaitu kecenderungan “pedagogis”, yang merupakan antitesa terhadap kencenderungan “metodologis” selama ini. Kedua,tulisan ini mengetengahkan langkah-langkah perencanaan,
pengimplementasian, dan evaluasi program Extensive Reading, yang didasarkan pada prinsip-prinsip dan karakteristik program ER yang berhasil di berbagai tempat. Sebagai sebuah pendekatan yang relatif baru, ER memerlukan pemahaman konseptual yang mendalam, perubahan mindset dan yang terpenting persepsi dan perilaku terhadap kegiatan banyak membaca. Meski demikian, ER adalah alternatif yang masih kurang populer. Kombinasi pemahaman konseptual dan teknik-teknik aplikasi program ER di lapangan yang diketengahkan dalam tulisan ini diharapkan menjadi bahan referensi bagi para pengajar bahasa Inggris untuk membantu mereka mempercepat peningkatan kemampuan berbahasa Inggris.

Pendahuluan
Duniapembelajaran bahasa Inggris saat ini mengalami kecenderungan baru, dari kecenderungan “metodologis” ke “pedagogis”.Kecenderungan ‘metodologis”, yang dimulai sejak awal perkembangan dunia ELT (English Language Teaching),ditandai oleh berbagai upaya inovasi-inovasi metode dan teknik mengajar pengajaran bahasa Inggris yang efektif, yang kemudian melahirkan berbagai metode dan pendekatan, sejak dari Grammar-Translation Method, Audio-Lingual Method, hingga Communicative Language Teaching dan Cooperative Learning (lihat Larsen-Freeman, 2000). Memasuki abad ke 21, fokus ini bergeser ke arah yang lebih luas. Para ahli menyadari bahwa untuk lebih menghasilkan output pembelajaran yang lebih memuaskan, kita perlu melihat pembelajaran bahasa Inggris dari perspektif yang lebih luas dan kompleks. Dengan kata lain, kita perlu paradigma yang berbeda.
Paradigma baru, yang disebut “language pedagogy” (Brown, 2002) ini, menekankan pentingnya memahaman yang lebih utuh mengenai bagaimana sesungguhnya proses belajar bahasa kedua. Beberapa prinsip dalam “language pedagogy” adalah: perlunya menciptakan lingkungan pembelajaran di mana pembelajar dapat sebanyak mungkin menggunakan bahasa target, lebih membuka kesempatan dan menghargai kontribusi pembelajar dalam proses pembelajaran, dan penekanan pada aspek kelancaran (fluency) dengan tidak mengorbankan keakuratan (Richards, 2002).
Extensive Reading (ER) adalah salah satu pendekatan yang memenuhi prinsip-prinsip tersebut karena sifatnya yang mendorong kemandirian dan kebebasan pembelajar dalam memilih bahan bacaan sebanyak mungkin, yang sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing (Day & Bamford, 1998). Sayangnya, karena berbagai faktor, masih banyak kalangan pengajar bahasa Inggris yang belum memahami pendekatan Extensive Reading dan kompatibilitasnya dengan “language pedagogy” (Renandya & Jacobs, 2002). Padahal, berbagai keunggulan ER telah diulas secara teoritis, dan diujicoba dalam sejumlah penelitian di berbagai tempat di dunia ini.Jika dikelola secara tepat sesuai prinsip-prinsip dasar ER, maka program ini bukan saja dapat meningkatkan minat baca, tetapi juga dapat mengakselesari peningkatan kemampuan berbahasa Inggris (Akio, 2006; Bamford & Day, 1997, 1998; Bell, 2010); Gardner, 2004; Horst, 2005; Leung, 2002; Lithuanas et.al., 1999; Nation, 1997; Pigada & Schmitt, 2006; Renandya et.al, 1999; Schackne, 2006).

Konsep Dasar Extensive Reading
Extensive Reading (ER) secara sederhana berarti membaca secara ekstensif (luas dan banyak). Orang yang aktif melakukan ER adalah orang yang gemar membaca, bacaannya mencakup berbagai jenis, diperoleh dari berbagai sumber, dan dengan jumlah bacaan yang banyak. Dalam pembelajaran bahasa Inggris (English Language Teaching), ER muncul sebagai salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa secara umum, dan ketrampilan membaca secara khusus. Adalah Harold Palmer dan Michael West (masing-masing dari Eropa dan India) yang dianggap sebagai peletak dasar-dasar teoritis dan praktek pelaksanaan ER (Bamford & Day, 1997). Palmer-lah yang pertama kali mengusung pendekatan extensive reading, dengan membedakannya dari intensive reading (IR). Extensive reading adalah membaca secara luas dan dalam kuantitas banyak, dengan tujuan utama menikmati kegiatan membaca itu sendiri, sedangkan intensive reading merupakan kegiatan membaca yang hanya dibatasi pada teks pendek, dan dilakukan dengan tujuan memahami sedalam mungkin isi bacaan tersebut. Sebagai sebuah pendekatan dalam pengajaran kemampuan membaca, kedua model ini kemudian dibedakan secara tajam dalam berbagai aspek yang berkaitan dengan kegiatan membaca, yang meliputi: tujuan utama membaca, fokus bacaan, sumber dan jenis bacaan, jumlah bacaan, kecepatan membaca, dan metode membaca. Karakteristik yang membedakan ER dan IR ini secara jelas digambarkan oleh Day & Bamford  (1998) dalam tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik pembeda Extensive Reading dan Intensive Reading (diadopsi dari Day & Bamford , 1998, 123)

Type of Reading
Intensive
Extensive
1.      Class goal
(tujuan umum)
Read accurately
(seakurat mungkin)
Read fluently
(selancar mungkin)
2.      Reading purpose
(tujuan)
-Translate
(menerjemahkan)
-Answer questions
(menjawab pertanyaan)
-Get information
(memperoleh informasi)
-Enjoy
(menikmati)
3.      Focus
(perhatian)
Words by words
(kata demi kata)
Meaning
(makna secara umum)
4.      Material
(bahan bacaan)
-Often difficult
(lebih sering sulit)
-Teacher choose
(ditentukan oleh guru)
-Easy
(mudah)
-Student chooses
(dipilih oleh masing-masing siswa)
5.      Amount
(kuantitas)
Not much
(sedikit)
A lot
(banyak)
6.      Speed
(kecepatan)
Slower
(agak lambat)
Faster
(di atas kecepatan normal)
7.      Method
(cara)
-Must finish
(harus diselesaikan)
-Use dictionary
(gunakan kamus sesering mungkin)
-Stop if you don’t like it
(hentikan kalau bacaantidakmenarik)
-Minimum use of dictionary
(kamus hanya sesekali digunakan)

Dari tabel 1 di atas, jelas tampak bahwa Extensive Reading merupakan pendekatan yang sangat berbeda secara diametral dengan Intensive Reading, sebagai pendekatan konvensional (yang umumnya digunakan selama ini) dalam pembelajaran kemampuan membaca. ER merupakan pendekatan alternatif yang menawarkan cara baru dalam mengajarkan kemampaun membaca teks-teks berbahasa Inggris. Cara-cara baru ini dianggap dapat melengkapi, bukan menggantikan, pendekatan Intensive Reading, yang terbukti selama ini kurang efektif dalam membentuk pembelajar yang mau dan mampu membaca dalam jumlah banyak.

Dengan pendekatan IR yang selama ini digunakan dalam mengajar reading skills, kondisi pembelajaran bahasa Inggris belum begitu memuaskan. Para pembelajar hanya mau membaca ketika ditugaskan oleh guru mereka. Di luar kelas, sangat jarang, atau bahkan tidak pernah, mereka membaca. Menurut Day & Bamford (1998), kondisi buram kelas-kelas reading dapat dirangkum dalam tiga keadaan. Pertama, “Students have no willingness to read, or if they read they do it slowly and without enthusiasm”.( Para pembelajar hampir tidak mempunyai keinginan membaca, kalau pun mereka membaca, hal itu dilakukan dengan sangat perlahan dan kurang antusias).  Kedua,“Students come to the class with uneasy feeling, and they quickly become bored to the reading lessons”. (para pembelajar menghadiri pelajaran reading dengan suasana hati yang tidak nyaman, mereka gelisah, dan sangat cepat bosan dengan kelas-kelas reading). Ketiga, Students only read English written materials if they are asked by their teacher; apart from that, they rarely read English texts. (para pembelajar hanya membaca teks-teks berbahasa Inggris kalau diinstruksikan oleh guru mereka, di luar itu mereka hampir tidak pernah membaca).

Selanjutnya, Day & Bamford (1998) menyimpulkan bahwa potret buram realitas pengajaran reading yang menggunakan pendekatan konvensional (Intensive reading) ini mengindikasikan 3 hal: (1) Students who are learning to read in English do not read (pada umumnya, mereka yang belajar membaca justru tidak membaca); (2) Students do not like reading (para umumnya, siswa tidak gemar membaca); dan (3) Students rarely read (siswa sangat jarang membaca). Jadi, adalah hal yang sangat ironis, ketika pengajaran kemampuan membaca justru tidak dilakukan dengan banyak membaca. Para guru menginginkan siswanya mahir membaca dalam bahasa Inggris, tetapi dalam kenyataannya metode pengajaran yang mereka terapkan tidak membuat siswanya membaca sesering mungkin. Padahal, ketrampilan hanya dapat diasah dengan sesering mungkin melatih dan melatih skill tersebut. Berikutnya, pendekatan IR ternyata tidak mampu menanamkan kecintaan membaca dalam diri para siswa, dan akibatnya mereka pun malas membaca. Dengan kata lain, kekurangan yang terdapat pada pendekatan IR adalah karena metode yang dilakukan (hanya membaca sedikit dan miskin daya tarik) tidak sepenuhnya mendukung tujuan yang diharapkan (mahir membaca).

Atas dasar keprihatinan terhadap kondisi di atas, para pendidik di bidang pengajaran bahasa Inggris kemudian mengadvokasikan pentingnya pendekatan Extensive Reading, sebagai sebuah alternatif dan pelengkap pendekatan konvensional selama ini. ER diyakini dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam pendekatan IR. Untuk menguji efektifitas extensive reading, berbagai penelitian pun dilakukan.

Penelitian di bidang ER
Dalam perkembangannya, ER kemudian menempati posisi penting dalam dunia pembelajaran bahasa Inggris. Ini karena berbagai efek positif yang ditimbulkan pendekatan ini dalam meningkatkan kemampuan membaca secara khusus, dan kemampuan berbahasa Inggris secara umum.  Day & Bamford (1998) meriviu sejumlah penelitian dalam bidang ER yang dilakukan pada 1980-an dan 1990-an. Hasilnya sangat luar biasa, hampir semua penelitian pada era tersebut melaporkan pengaruh ER yang sangat signifikan terhadap kemampuan berbahasa Inggris secara umum, dan khususnya pada peningkatan kemampuan reading, writing, speaking, dan vocabulary. Di samping itu, ER juga berpengaruh positif terhadap ranah afeksi para pembelajar. Sikap dan motivasi terhadap kegiatan membaca dilaporkan meningkat, dan pada tahap selanjutnya ER ternyata sangat membantu proses pemerolehan bahasa kedua (second language acquistion).

Mengutip Krashen (1982), Renandya (1991: 1) menyebutkan bahwa salah satu keunggulan ER adalah karena ia menjadi medium yang sangat efektif untuk memberikan input, dalam bentuk bacaan, yang semaksimal mungkin pada para pembelajar. Dalam theori Input Hypothesis (Krashen, 1982), input merupakan salah satu komponen penting dalam yang mempengaruhi kesuksesan pemerolehan bahasa kedua. Input dapat diperoleh lewat dua jalur: pendengaran (menyimak = listening) dan penglihatan (membaca = reading). Untuk melahirkan output yang baik (berupa speaking dan writing), input yang diterima pembelajar harus banyak, dan ini sangat dimungkinkan oleh Extensive Reading karena dengan pendekatan ini para pembelajar didorong untuk membaca sebanyak-banyaknya.Selain yang telah direviu oleh Day & Bamford di atas, ulasan luas tentang hasil-hasil penelitian di bidang ER juga dilakukan oleh Jacobs et.al. (1997) yang mereviu berbagai program ER yang telah dilaksanakan di berbagai tempat di dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Sejumlah penelitian di tahun 2000-an juga menunjukkan hasil yang konsisten. Bell (2001) misalnya, melaporkan bahwa ER meningkatkan kecepatan membaca, namun tetap disertai dengan pemahaman yang baik. Garder (2003) dan Pigada & Schmitt (2006) mengidentifikasi adanya pengaruh positif ER terhadap pengayaan kosa kata pembelajar. Hsui (2006) menunjukkan fungsi strategis ER program yang dilakukannya, yang dinamakan GIR (Guided Independent Reading), dalam membentuk pembaca yang independen.

Keunggulan program ER bukan hanya karena efek positifnya pada kemampuan bahasa pembelajar, tetapi juga karena pendekatan ini sangat fleksibel untuk dapat diterapkan tanpa terikat dimensi usia pembelajar dan jangka waktu pelaksanaannya. Renandya et.al. (1999) secara khusus mengamati penerapan ER pada pembelajar dewasa. Hasilnya, program ini berpengaruh positif pada peningkatan kualitas pembelajaran. Berkaitan dengan faktor waktu, Shancke (2006) mengulas dua buah studi yang dilakukannya untuk meneliti pengaruh ER terhadap pemerolehan bahasa. Kedua penelitian itu, yang dilakukan pada tahun 1986 dan 1995, menunjukkan hasil yang sama: terjadi peningkatan pemerolehan bahasa Inggris melalui program ER yang dilaksanakan dalam jangka pendek (4 bulan). Ini menunjukkan bahwa program ER dapat diterapkan pada pembelajar dini, remaja, maupun dewasa, dan ia dapat diselenggarakan dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang

Hal menarik yang patut digarisbawahi dari penelitian-penelitian di atas adalah bawah progarm ER, selain mendukung peningkatan kemampuan berbahasa Inggris, umumnya juga mendapatkan respon dan tanggapan yang positif dari subyek penelitian (dalam hal ini para pembelajar). Day & Bamford (1998: 38) secara khusus mencatat hal ini dan menekankan bahwa “[a]nd equally exciting, students who learn to read through an extensive reading program approach develop positive attitudes and become motivated to read in the second language. Dengan kata lain, sebagai sebuah pendekatan, ER ternyata sangat kompatibel dengan faktor afektif pembelajar. Bahkan dapat dikatakan, keberhasilan program-program ER sebagian besar ditunjang oleh karakteristiknya yang memberi kesan positif bagi para pembelajar. ER mengandung unsur fun dan enjoy (kesenangan dan kenikmatan), dua unsur yang secara psikologis sangat berperan penting menyukseskan pembelajaran  apapun.

Dimensi afektif (sikap dan motivasi) inilah yang tidak sepenuhnya terakomodasi dalam pendekatan pengajaran reading konvensional (intensive reading). Padahal, sulit mengharapkan kesusksesan dalam melakukan sesuatu tanpa disertai sikap positif dan motivasi yang tinggi. Pembelajaran yang tidak mempertimbangkan dimensi afektif pembelajar juga dapat berujung pada kegagalan, karena ketiadaan unsur afeksi berarti mengurangi keterlibatan unsur emosional dalam diri pembelajar terhadap apa yang tengah dipelajarinya. Dan kalau hal ini terjadi berlarut-larut, maka pembelajaran dapat gagal. Kondisi seperti ini juga dapat terjadi pada pembelajaran reading. Sulit mengharapkan terjadinya aktifitas membaca yang benar-benar intens, mendalam, dan bermanfaat, jika seorang pembaca tidak mengalami keterlibatan afektif dan emosional terhadap kegiatan membaca itu sendiri. Yang terjadi, kegiatan membaca akan dipandang sebagai sesuatu yang membosankan, atau bahkan sangat tidak menyenangkan. Ironisnya, kondisi inilah yang banyak melanda para pembelajar bahasa Inggris, terutama di tingkat dasar dan menengah. Salah satu penyebabnya adalah pendekatan konvensional (intensive reading) yang selama ini diterapkan di sekolah-sekolah.

Day & Bamford (1997) mengkritisi pendekatan ini, yang dianggap tidak sensitif dengan dimensi afeksi pembelajar, lewat pernyataan beikut: teachers are (rightly) concerned with developing in their students the ability to read, but how much attention do teachers pay to developing a habit –indeed, love –of reading in their students? (Day & Bamford ,1997: 2). Menurut mereka, mengajarkan keterampilan scanning dan skimming adalah hal yang syah. Namun sebelum ke situ, seharusnya para guru menanamkan dulu kecintaan para pembelajar terhadap kegiatan membaca. Mengutip Eskey (1995), mereka mengibaratkan pelajaran membaca dengan  pelajaran renang: “the teaching of swimming strokes to people who hate the water (Day & Bamford, ibid.) Artinya, sebagaimana musykilnya mengajarkan ketrampilan berenang pada orang yang enggan menyentuh air, maka mengajarkan keterampilan membaca pada orang yang tidak suka membaca adalah hal yang sukar diterima akal sehat. Dengan kata lain, pembelajaran reading selayaknya dimulai dengan pendekatan extensive reading, yang tujuan utamanya menanamkan cinta baca. Setelah itu, barulah digunakan pendekatan intensive reading, yang berfokus pada keterampilan membaca (reading skills).
Sebuah penelitian yang dilakukan Bell (2001) mencoba membandingkan pendekatan ER dan IR. Bell melakukan eksperimen terhadap 2 kelas, di mana dalam kelas intensive reading para pembelajar memperoleh bacaan-bacaan singkat diikuti tes pemahaman bacaan. Pada kelas yang menerapkan pendekatan ER, para pembelajar membaca novel/cerita pendek yang telah disederhanakan bahasanya (simplified graded readers). Hasilnya, kelas extensive reading mengalami peningkatan lebih baik daripada kelas intensive reading, baik dalam hal kecepatan membaca maupun tingkat pemahaman isi bacaan.
Untuk dapat mengimplementasikan program Extensive Reading, kita perlu memahami konsep dasar ER dan peranannya sebagai salah satu model “language pedagogy.”  Salah satu isu penting dalam hal ini adalah bagaimana mengimplementasikan prinsip “rich learning environment” melalui ER. Prinsip pertama dalam “language pedagogy” ini menekankan penting menciptakan lingkungan pembelajaran bahasa Inggris dimana pengajar dan pembelajar menggunakan bahasa Inggris sebanyak mungkin. Kebanyakan kita umumnya mengasumsikan “penggunaan bahasa Inggris”dalam arti aktif, yaitu secara oral melalui ketrampilan produktif  (speakingdan writing), dan hal ini dirasa kurang sejalan dengan kegiatan utama ER, yakni membaca. Sesungguhnya kita perlu melihat ketrampilan berbahasa Inggris secara terintegrasi, setiap ketrampilan adalah saling terkait dan mendukung. Speaking dan writing adalah output, yang untuk mampu melakukannya diperlukan input yang memadai melalui reading dan listening. Jadi, ER adalah media input, yang dalam istilah Krashen disebut dengan comprehensible input, komponen yang sangat penting dalam pembelajaran bahasa.
Hal lain yang diperlukan adalah pemaknaanrich learning environment” secara aktif maupun pasif. Jika ketrampilan produktif (speaking dan writing) bersifat aktif, maka ketrampilan reseptif (reading dan listening) bersifat pasif. Keunggulan model ER adalah melalui ER terbuka kesempatan bagi para pembelajar untuk mengaplikasikan keempat ketrampilan berbahasa tersebut. Setelah membaca (secara ekstensif), pembelajar dapat melatih speaking dan listening skill mereka melalui kegiatan book talk in groups dan book presentation. Melalui kegiatan book report dan book response, mereka melatih writing skills.
Hal berikutnya yang perlu dikaji adalah karakteristik program ER yang berhasil. Menurut para pakar, untuk bisa efektif, program ER perlu memenuhi 11 kriteria (lihat Richard & Bamford, 1998).

Model Pelaksanaan Program Extensive Reading
Model-model pelaksanaan program Extensive Reading yang berhasil umumnya mengadopsi karakteristik-karakteristik dasar ER sebagai sebuah pendekatan dalam pengajaran bahasa Inggris. Menurut Day & Bamford (1998:7-8), untuk melaksanakan sebuah program ER yang sukses, kesepuluh karakteristik berikut harus muncul

1.      Students read as much as possible (para pembelajar membaca sebanyak mungkin)
2.      A variety of reading materials on a wide range of topics is available (tersedianya bahan bacaan dalam berbagai topik, jenis, dan tingkat kesulitan yang bervariasi)
3.      Students select what they want to read (para siswa sendirilah yang harus memilih bacaan apa yang mereka sukai)
4.      The purposes of reading is usually related to pleasure, information, dan general understanding (tujuan utama membaca adalah untuk kesenangan, mendapatkan informasi, dan pemahaman secara umum).
5.      Reading is its own reward. (imbalan yang diperoleh dari membaca adalah kesenangan dan kepuasan membaca itu sendiri)
6.      Reading materials are well within the linguistic competence of the students (tingkat kesulitan bahan bacaan haruslah sesuai dengan level para pembelajar)
7.      Reading is individual and silent (membaca dilakukan secara orang per orang dan tidak nyaring)
8.      Reading speed is usually faster than slower (membaca lebih dilakukan secara cepat, membaca lambat harus dihindari)
9.      Teachers orient students to the goals of the program, explain the methodology, keep track of what each student reads, and guide students in getting the most out of the program (guru berperan menjelaskan orientasi/tujuan utama program, metodologi yang akan dilakukan, merekam kegiatan membaca setiap siswa, dan membantu setiap siswa agar memperoleh manfaat yang sebesar-besar dari program ER).
10.  The teacher is an active role model of reader for students. (guru harus memberi contoh yang baik sebagai pembaca yang aktif dan ekstensif)

Kesepuluh karateristik inilah yang menjadi pedoman dalam pendisainan program-program ER. Kriteria-kriteria tersebut disimpulkan dari berbagai hasil penelitian terhadap pelaksanaan program ER yang telah dilakukan selama 10 tahun terakhir di berbagai tempat dan konteks pembelajaran di dunia. Di sini kita perlu mereviu kembali kriteria-kriteria dan karakteristik tersebut,lalu menganalisis satu demi satu kriteria, sebelum kemudian melihat peluang dan tantangannya dalam konteks lingkungan pembelajaran bahasa Inggris di tempat kita masing-masing.
Biasanya, ada dua karakteristik ER yang berpotensi menjadi kendala utama, yaitu (1) ketersediaan materi/bahan bacaan yang banyak dan bervariasi; dan (2) peran guru/pengajar sebagai model yang dapat diikuti pembelajar. Faktor ketersediaan materi dianggap menjadi tantangan mengingat kondisi berbagai perpustakaan yang sangat minim dengan bacaan berbahasa Inggris yang dapat mendukung pelaksanaan ER. Faktor kedua, peranan guru/pengajar, menjadi tantangan terbesar karena masih rendahnya budaya baca kita. Kebiasaan banyak membaca harus diakui belum merupakan bagian dari kehidupan masyarakat kita, tidak terkecuali para guru/pengajar.
Model-model pengintegrasian ER dalam kurikulum
Pemahaman terhadap topik ini penting untuk menajamkan pemahaman kita terhadap aspek aplikatif ER. Setelah memahami konsep dan karakteristik program ER, kita dapat mulai menjajaki prospek penerapan model ER di sekolah-sekolah.
Secara teoritis, ada empat cara yang dapat ditempuh untuk menintegrasikan program ER dalam kurikulum kita:
(1) ER sebagai satu mata pelajaran;
(2) ER sebagai bagian dari mata pelajaran bahasa Inggris;
(3) ER sebagai kegiatan ektra kurikuler;
(4) ER sebagai mata pelajaran non-kredit.

Kondisi kita umumnya menunjukkan alternatif 1 masih belum mungkin dilakukan mengingat kurikulum pendidikan menengah telah baku, dan pembentukan mata pelajaran baru harus melalui keputusan pengambil kebijakan di pusat. Alternatif 2 dianggap paling memungkinkan di sekolah-sekolah. Ini pun bukan tanpa masalah. Volume materi pelajaran bahasa Inggris yang harus dituntaskan dirasa telah cukup besar. Memasukkan komponen ER berarti mengambil alokasi waktu belajar yang sebenarnya masih kurang. Sementara itu, alternatif 3 dan 4membuka peluang yang lebih luas bagi pelaksanaan ER secara penuh. Meskipun demikian, karena sifatnya yang sukarela, tantangannya akan terletak pada bagaimana membangun kesadaran peserta didik untuk terlibat aktif dalam program ER.
Meskipun demikian, keempat alternatif di atas tetap perlu dipertimbangkan secara merata, tanpa mengutamakan yang satu di atas yang lain. Alternatif-alternatif tersebut harus dilihat dalam skala prioritas tergantung kondisi setiap lingkungan pembelajaran. Pada tahap awal, alternatif ke-2 yang paling memungkinkan dilakukan, meskipun harus diupayakan agar tidak mengganggu muatan kurikulum bahasa Inggris yang telah ada. Di sini sangat dibutuhkan kemampuan guru menyiasatinya. Beberapa strategi yang dapat ditempuh adalah:
(a) mengalokasikan 15-20 menit di akhir pelajaran bahasa Inggris untuk kegiatan ER;
(b) menjadikan ER sebagai pekerjaan rumah rutin (perminggu atau perdua minggu), atau;
(c) mengintegrasikan ER pada materi-materi reading, speaking, listening, atauwriting.

Selanjutnya, pada tahap-tahap berikutnya – ketika pembelajar telah memahami konsep, tujuan, dan metode pelaksanaan ER yang efektif – guru dapat menerapkan alternatif 3 (ER sebagai kegiatan ekstrakurikuler) atau 4 (ER sebagai mata pelajaran non-kredit). Diharapkan pada tahap lanjutan ini, sebanyak mungkin peserta didik telah memiliki kesadaran akan manfaat ER bagi peningkatan bahasa Inggris mereka, dan kemandirian dalam melaksanakannya secara kontinyu.

Berdasar pada pemahaman tentang landasan pedagogik, karakteristik, dan model alternatif pelaksanaan ER, kita dapat mulai membuat perencanaan pelaksanaan program ER. Rancangan tersebut meliputi: strategi penyediaan bahan bacaan, orientasi program, jenis-jenis kegiatan (inti maupun penguatan), format lembaran-lembaran pencatat kegiatan ER (weekly reading diary, book report, book response), format evaluasi program, dan sebagainya.Di sini dibutuhkan kreatifitas kita dalam mendisain format weekly readingdiary, book report, dan book response. Dengan mengadopsi model-model format yang pernah dipakai pada sejumlah tempat, kita dapat mendisain model-model yang lebih sesuai dengan konteks pembelajaran lokal. Misalnya, membuat format lembaran yang lebih menarik dengan grafik, gambar, tulisan, dan lay-out unik. Kita bahkan dapat mendisain format lembaran yang menyediakan kesempatan bagi pembelajar untuk “menghiasi” sendiri sesuai kreatifitas masing-masing. Diharapkan dengan cara ini para pembelajar nanti tidak mudah bosan dalam mengisi dan melengkapi lembaran-lembaran yang mencatat kegiatan membaca mereka.

Material untuk Extensive Reading
Pada tahap ini kita perlu menemukan strategi pengoleksian dan pengelolaan bahan bacaan (class library), yang merupaan salah satu karakterisitik penting sebuah program ER. Bercermin pada program-program ER yang telah berhasil dilaksanakan di berbagai tempat, sejumlah ahli menyarankan bermacam cara mengelola class library, mulai dari tahap pengumpulan, peng-kompilasi-an, hingga tahap peminjaman bahan-bahan bacaan. Para peserta mendiskusikan tahap-tahap tersebut, menganalisis peluang dan tantangan pelaksanaannya di lapangan, lalu mencari aternatif terbaik yang dapat ditempuh dalam mengelola class library sesuai dengan kondisi objektif di sekolah-sekolah. Setelah mempelajari saran-saran para ahli, kita harusnya menyadari bahwa pengelolaan class librarybukanlah masalah pokok yang perlu dikhawatirkan. Kondisi miskinnya perpustakaan dengan koleksi bacaan berbahasa Inggris dapat disiasati dengan berbagai cara, antara lain: mengumpulkan koleksi pribadi setiap peserta untuk disimpan dalam koleksi class library secara temporer, meng-copy buku pengajar/guru, membeli, dan mengunduh dari internet.
Secara khusus, kita dapat memfokuskan diri pada teknik dan strategi mendapatkan bahan-bahan bacaan dari internet dengan menelusuri situs-situs penyedia bahan bacaan berbahasa Inggris, baik fiksi maupun non-fiksi, yang dapat diunduh secara gratis. Setelah memperoleh bahan yang dianggap sesuai, kita dapat mereproduksi bahan-bahan tersebut hingga menjadi buku yang dapat diakses, dibaca, dan/atau dibawa pulang. Proses reproduksi ini meliputi:
1)      Konversi dokumen dari format PDF ke format DOC, dengan menggunakan perangkat lunak pengkonversi dokumen (a.l. PDF Converter Elite 2009);
2)      Penyuntingan dokumen. Setelah berbentuk DOC, dokumen lalu diedit sedemikian rupa agar hasil cetakannya nanti menyerupai buku berukuran setengah folio. Bagian yang diedit meliputi ukuran huruf, jarak margin, jarak spasi, dan ukuran kertas;
3)      Pencetakan. Selain isinya, kulit luar buku pun ikut dicetak agar menghasilkan buku yang semirip mungkin dengan aslinya.
4)      Penjilidan dokumen.

Dengan cara mengunduh dan mereproduksi ini, penyediaan bahan bacaan ER, yang selama ini menjadi momok penghalang kegiatan ER, tidak perlu menjadi masalah lagi. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi infornasi, kita dapat memperoleh berbagai bahan bacaan, dalam berbagai topik, tingkat kesulitan, jenis, dan jumlah yang nyaris tak terbatas. Kita hanya perlu sedikit bersusah payah menyunting, merapikan, dan mencetak bahan-bahan tersebut. Selanjutnya, buku-buku yang telah direproduksi dapat menjadi koleksi perpustakaan kelas untuk selamanya.

Implementasi ER
Kegiatan inti ER adalah membaca dalam jumlah banyak secara kontinyu, yang diistilahkan dengan uninterrupted sustained silent reading (USSR), drop everything and read (DEAR), atau silent free voluntary reading for pleasure. Sedangkan kegiatan pendukungnya mencakup oral report in groups, book presentation/talk, book report, dan book response.
Beberapa output dari kegiatan ER ini adalah:
a)      Lembaran-lembaran book report/response, yang diisi oleh setiap pembelajar setelah selesai membaca satu buku. Lembaran ini berfungsi merekam identitas buku yang Lembaran-lembaran book report/response (lihat lampiran 3), yang diisi oleh setiap peserta setelah selesai membaca satu buku. Lembaran ini berfungsi merekam identitas buku yang dibaca, alasan memilih buku, pendapat pembaca tentang seberapa menarik dan sulit/mudah buku yang dibaca.
b)      Catatan bacaan mingguan (weekly reading diary). Fungsi sebenarnya dari lembaran ini adalah untuk merekam aktifitas membaca mingguan, yang mencakup judul buku & pengarang, serta total halaman yang dibaca dalam seminggu.
c)      Catatan hasil book presentation, yang mencatat nama buku dan pengarang, jumlah halaman, sinopsis singkat isi buku, kesan-kesan terhadap isi buku, dan direkomendasi-tidaknya buku tersebut untuk dibaca orang lain.

Evaluasi Program ER
Bagian akhir dari seluruh rangkaian pelaksanaan program ER adalah tahap evaluasi program.Untuk dapat melaksanakannya dengan baik, kita perlu memahami tujuan, jenis, dan cara-cara melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan sebuah program ER.Mengacu pada saran para pakar ER (Richards & Bamford, 1998), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang evaluasi program adalah:
(1)   menentukan tujuan evaluasi (mengukur pencapaian tujuan, mengetahui ada tidaknya aspek lain (selain tujuan utama program) yang ikut terpengaruh, atau mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu ditingkatkan/dibenahi);
(2)   menentukan sumber evaluasi (pengajar, pembelajar, manajemen sekolah);
(3)   menentukan metode evaluasi yang tepat dan efektif.

Kita dapat melihat contoh-contoh instrumen evaluasi yang pernah dilakukan di berbagai tempat,  lalu mendesain instrumen evaluasi program ER yang sesuai dengan kondisi kita masing-masing. Sesungguhnya, inilah salah satu kekuatan penting dari program ER – dengan adanya evaluasi maka perbaikan dan peningkatan menjadi hal yang mungkin terwujud. Selama ini, kalau kita mau jujur, begitu banyak kegiatan atau program yang tidak mengindahkan pentingnya evaluasi. Seringkali kita mengadakan kegiatan ini itu, workshop, pelatihan, atau bahkan pengajaran di kelas, namun setelah semua berakhir tidak ada upaya mengevaluasinya. Kalau pun ada, itu hanya terjadi di dalam kelas, dan hanya pihak pembelajarlah yang dievaluasi (dalam bentuk tes formatif atau sumatif). Hampir tidak pernah dilakukan evaluasi terhadap pelaksana (panitia atau pengajar) dan program itu sendiri secara keseluruhan. Akibatnya, kita sering mengadakan kegiatan yang sama atau serupa lagi, dan kembali melakukan kesalahan yang sama.Dalam ER, evaluasi tidak hanya difokuskan pada pembelajar, tetapi juga pada pengajar dan pihak manajemen sekolah. Dengan begitu, semua pihak yang terkait dapat mengetahui perkembangan dan permasalahan yang terjadi selama program berlangsung, dan diharapkan dapat mengambil respon yang sesuai.

Kesimpulan dan Penutup
Secara umum, dapat kita simpulkan bahwa dibutuhkan perubahan pola pikir para pengajar terhadap konsep dan pelaksanaan ER sebagai salah satu model pembelajaran bahasa Inggris. Selama ini persepsi yang berkembang adalah bahwa ER hanya diaplikasikan dalam pengajaran reading. Sesungguhnya, ER pun dapat diintegrasikan dengan skill lain (speaking, listening, dan writing) dan pengetahuan bahasa lainnya (grammar dan vocabulary). Dengan demikian, program ER seharusnya menjadi alternatif penting dalam mengakselerasi pemerolehan bahasa, di samping tentu saja menambah wawasan melalui banyak membaca. Kalau ini dapat kita implementasikan dengan baik, maka kita bisa berharap peningkatan output pembelajaran bahasa Inggris yang lebih baik.

SUMBER RUJUKAN
Bamford J., dan Richard R. Day.1998. .Extensive Reading in the Second Language Classroom. Cambridge: Cambridge University Press.
Bamford, Jdan Richard R. Day (ed.). 2004. Extensive Reading Activities for Teaching Language. Cambridge: Cambridge University Press.
Bamford, J, dan Robert R. Day. 1997. Extensive Reading: What is it? Why bother? Tersedia pada http://jalt-publications.org/old_tlt/files/97/may/extensive.html. Diakses pada 8 Juli 2012.
Bell, T. 2001. Extensive Reading: Speed and Comprehension. The Reading Matrix, 1 (1).
Day, R.R, & J. Bamford. 1998. Extensive Reading in the Second Language Classroom. Cambridge: CUP.
Garder, D. 2004. Vocabulary Input through Extensive Reading: A Comparison of Words found in Children’s Narrative and Expository Reading Materials. Applied Linguistics, 25 (1):1-37.
Hsui, V.Y. 2006. Guided Independent Reading (GIR): A Programme to Nurture Lifelong Readers. Tersedia pada http://extensivereading.net/docs/hsui.html. Diakses pada 5 Juli 2012.
Lituanas, P. M. Jacobs, G.M, & Renandya, W.A. 1999. A study of extensive reading with remedial reading students. In Y.M. Cheah & S.M. Ng (eds). Language instructional issues in Asian classrooms (pp.89-104). Nemark, DE: International Development in Asia Committee, International Reading Association.
Nation, P. 1997. The language Learning Benefits of Extensive Reading. The Language Teacher, 21, 5, 13-16.
Pigada, M., & N. Scmitt. 2006. Vocabulary Acquisition from Extensive Reading: A Case Study. Reading in a Foreign Language, 18(1).
Renandya, W.A., Rajan, B.R.S., & Jacobs, G.M. 1999. Extensive reading with adult learners of English as a second language. RELC Journal, 30, 39-61.
Richards, Jack C., dan Willy A. Renandya (ed.). 2002.Methodology in Language Teaching, Cambridge: Cambridge University Press.
Schackne, S. 2006. Extensive Reading and Language Acquisition – Two Studies. Tersedia pada http://www.schackne.com/Twostudies.htm. Diakses pada tanggal 5 Juli 2012.
.

3 comments:

Aras Tawulo said...

Thank you for giving information about Extensive Reading

Unknown said...

Kak boleh tanya untuk pengaplikasian extensive reading kepada siswa, kompetensi dasar berapakah yang pas?

Anonymous said...

MGM Resorts Completes $250 Million Resorts' $250 Million
The $250 million Wynn Las Vegas and Encore will 구리 출장샵 feature 2,748 rooms, 포천 출장마사지 according to a 제천 출장안마 release from the casino 상주 출장샵 giant. 남양주 출장샵

Post a Comment